Siang ini agenda literasi nusantara
yang difasilitasi oleh Ikatan Guru Indonesia pusat bertajuk “ Legenda Batu
Gantung “ ( LBG ). Salah satu tujuan dari diadakannya literasi ini adalah untuk
mengenal lebih dekat destinasi wisata diseluruh penjuru tanah air. Untuk
Sumatera Utara sendiri, berbagai destinasi wisata sangat layak untuk “ dijual”
kepada wisatawan lokal maupun mancanegara.
LBG merupakan salah satu objek
wisata kebanggaan warga Kecamatan Girsang Sipanganbolon yang letaknya ditebing
terjal tepi Danau Toba. Dengan jarak 176 KM yang dapat ditempuh melalui
perjalanan darat selama 4 jam, anda akan tiba di kota Parapat. Untuk melihat
dari dekat batu gantung, anda dapat menyewa boat atau kapal wisata.
Sebagai tokoh sentral dalam LBG
adalah Seruni, gadis cantik sibunga desa. Seruni adalah anak yang sangat patuh
kepada orang tua, rajin bekerja dirumah bahkan membantu ayah ibunya berladang.
Seruni, secara diam-diam telah mengikat janji ( Marpadan ) dengan Doli, lelaki
gagah pujaan hatinya. Untuk mewujudkan impian mereka, maka Doli pergi merantau,
supaya mampu membiayai pesta pernikahan yang biasanya dilaksanakan dengan
meriah dan menelan biaya yang tidak sedikit.
Jelang naik ke perahu, Doli
berpesan supaya Seruni bersabar menunggunya, disaksikan alam mereka saling
mengucap janji. Selepas kepergian Doli merantau, Seruni kembali pada
kegiatannya sehari-hari. Namun, pada suatu malam, Seruni mendengar percakapan
ayah dan ibunya, tentang rencana perjodohan Seruni dengan putra seorang tuan
tanah. Terjadi perdebatan, ibu Seruni tidak setuju, sebab beliau tahu bahwa
Seruni sudah memiliki pilihan hati. Tetapi ayah Seruni berkeras, bahwa putri
mereka harus bersedia dinikahkan dengan putra tuan tanah tersebut, sebab kalau
tidak, maka bahaya besar mengancam mereka. Malam itu Seruni tidak bisa tidur,
dia menangis sepanjang malam memikirkan nasibnya yang malang.
Keesokan harinya, ayah dan ibu
Seruni pergi ke sebuah hajatan di kampung sebelah. Seruni yang sedang gundah
gulana, berjalan menuju pinggiran Danau Toba. Toki anjing peliharaannya
mengikuti tuannya dengan gonggongan kecil, pertanda bahwa hewan tersebut juga
memiliki firasat aneh.
Seruni berjalan semakin cepat,
airmatanya bercucuran. Dia merutuki nasib, jika dia mengikuti kemauan ayahnya,
bagaimana janjinya dengan Doli?. Namun jika dia menolak, maka orang tuanya
terancam. Tiba-tiba Seruni terperosok ke dalam jurang, tangannya
menggapai-gapai meraih apa saja disekitar tebing jurang. Toki yang sadar bahwa
tuannya dalam kesulitan segera berlari pulang, setiba dirumah Toki
menarik-narik ujung baju ibu Seruni.
Dengan berlari-lari kedua orang tua
Seruni mendatangi jurang tempat Seruni terperosok. Dibantu oleh penduduk
lainnya, ayah Seruni mulai memasuki ceruk batu yang sangat sempit. Ibu Seruni
hanya bisa menangis. Tak lama kemudian terdengar suara Seruni berucap: “
Parapat… Parapat “ yang artinya lebih dekat lebih dekat. Tiba-tiba terdengarlah
suara gemuruh dari atas tebing, batu-batu disekitar Seruni semakin merapat menutupi
tubuh gadis malang itu. Setelah suara gemuruh reda, muncullah sebongkah batu
menyerupai tubuh seorang gadis, menggelantung di tepi jurang, yang kini dikenal
dengan Batu Gantung. Teriakan Seruni “ Parapat… parapat “, yang meminta supaya
batu semakin merapat, akhirnya dijadikan nama kota Parapat yang dikenal sebagai
kota turis.
Berbicara tentang legenda ( Disebut
turi-turian dalam Bahasa Batak ), seperti penyampaian ketua umum IGI Pak
Danang, maka legenda memiliki ciri khas. Ciri khas tersebut adalah sang peran
utama biasanya seorang gadis cantik, kembang desa, baik budi. Sementara peran
antagonis dikenali sebagai sosok yang memiliki kepribadian buruk, arogan, dan
selalu memaksakan kehendak. Demikian halnya dengan Seruni. Sebagai seorang
gadis desa yang ingin merajut masa depan bersama lelaki pujaan hatinya,
ternyata harus kandas dihempas skandal hutang sang ayah.
Ketika kegiatan literasi beralih
pada sesi tanya jawab, saya diberi pertanyaan oleh peserta. “ Apakah LBG
merupakan plagiasi dari kisah Sitti Nurbaya ( Sumatera Barat )? “. “ Apakah
cerita ini anonim atau benar-benar ada tokoh-tokohnya secara nyata? “. Untuk
pertanyaan pertama, saya jawab, bahwa berbeda antara LBG dengan Sitti Nurbaya.
Alasannya, Seruni tidak jadi menikah dengan anak sahabat ayahnya karena
terjerat hutang, dan Sitti Nurbaya akhirnya menikah dengan Datuk Maringgih.
Jawaban untuk pertanyaan kedua, kisah ini hanya berdasarkan cerita turun
temurun dari leluhur sehingga tokoh-tokoh dalam legenda tersebut juga tidak
terlacak.
Ada alasan tersendiri maka saya
mengangkat tema ini pada kegiatan Literasi Nusantara yang dikelola oleh ibu
Wulan Widaningsih sebagai Ketua Bidang Literasi. Selama ini Parapat-Danau Toba
lebih dikenal dengan pantai pasir putih yang memukau, rimbunan pohon pinus di perbukitan,
indahnya air danau, dan seterusnya. Padahal, Batu Gantung merupakan satu dari
sepuluh Geopark Kaldera Toba yang disebut dengan “ Parapat Welded “.
Dengan mengangkat tema legenda, ada
beberapa pesan yang ingin saya sampaikan. Pertama, kisah turun temurun dari
leluhur tentulah mengandung petuah-petuah bijak yang harus dilestarikan dan
diwariskan ke anak cucu. Sehingga, dengan mengangkatnya pada kegiatan literasi
nusantara, sahabat literasi setanah air dapat lebih mengenali destinasi wisata
Sumut dengan memberi panggung pada LBG. Ada yang menggelitik ketika Bu Wulan
menyampaikan sambutan. Selama ini beliau hanya mengenali Sumut sebagai daerah
asal suku Batak yang pintar menyanyi plus bersuara keras.
Pesan kedua dari LBG adalah, dengan
mengangkat legenda, dongeng, cerita rakyat, dan seterusnya, akan mengasah
kemampuan literasi, terlebih jika disemarakkan dengan berbagai lomba. Jika
momen Bulan Bahasa dapat ditangkap dengan baik oleh para pegiat literasi (
Secara khusus bidang literasi IGI ), maka sudah selayaknyalah warisan leluhur
dalam bentuk kisah-kisah tersebut menjadi salah satu tema penting.
Yang ketiga, melalui LBG, maka
semakin terbukalah mata dunia terhadap berbagai destinasi wisata di Sumut.
Sebagai warga negara yang baik, tentu kita menginginkan setiap rupiah yang
dibelanjakan para wisatawan akan berdampak pada pendapatan perkapita yang juga
dapat meningkatkan kesejahteraan sosial. Destinasi wisata di luar negeri tak
kalah menarik dengan suguhan wisata di Indonesia ( Sumut ). Sehingga jika ada
himbauan untuk mencintai produk dalam neegri, maka inilah saatnya kita juga
lebih mencintai produk wisata domestik. Selamat datang di “ Kepingan Surga Yang
Jatuh ke Bumi di Sumatera Utara “. Salam literasi dari bumi Kualuh, basimpul
kuat babontuk elok.